JAKARTA – Kementerian Kesehatan terus memperkuat skrining TB di kelompok berisiko sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi tuberkulosis di Indonesia. Pendekatan tersebut tidak hanya mengandalkan pemeriksaan pasien yang datang ke fasilitas kesehatan. Pemerintah juga aktif mencari kasus langsung di tengah masyarakat.
Lingkungan dengan interaksi dekat dan kepadatan tinggi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko penularan TB. Oleh karena itu, pendekatan berbasis komunitas semakin diperkuat. Pemeriksaan juga diarahkan kepada kontak serumah dan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Skrining TB Menjangkau Kelompok Berisiko
Kemenkes menggunakan pendekatan Active Case Finding untuk menemukan pasien TB lebih cepat.
Salah satu metode yang digunakan adalah skrining dengan mobile chest X-ray. Pemeriksaan ini telah menyasar kontak serumah dan kontak erat di berbagai daerah. Selain itu, pemerintah melakukan skrining pada kelompok dengan risiko penularan tinggi.
Strategi tersebut penting karena tidak semua orang dengan TB segera datang ke fasilitas kesehatan.
Akibatnya, kasus yang belum ditemukan dapat terus menjadi sumber penularan.
Karena itu, semakin cepat pasien ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan.
Permukiman Padat Perlu Mendapat Perhatian
Kepadatan hunian menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian TB.
TB menular melalui udara ketika penderita TB paru mengeluarkan bakteri, terutama saat batuk, bersin, atau berbicara. Risiko penularan dapat meningkat ketika orang berada dalam kontak dekat dalam waktu lama, terutama di ruangan dengan ventilasi buruk.
Kondisi tersebut membuat pendekatan langsung ke masyarakat menjadi penting.
Di Papua, misalnya, Kemenkes mendorong penemuan kasus melalui skrining X-ray yang diawali dengan pelacakan kontak serumah. Pemerintah juga menjalankan intervensi untuk memperbaiki kondisi rumah pasien TB.
Selain itu, Kemenkes mendorong penguatan Desa dan Kelurahan Siaga TBC.
Pendekatan tersebut melibatkan keluarga, kader, serta masyarakat. Dengan demikian, upaya pencegahan tidak hanya berlangsung di rumah sakit atau puskesmas.
Lingkungan dengan Aktivitas Bersama Jadi Perhatian
Pendekatan serupa relevan untuk lingkungan komunal, termasuk asrama dan lembaga pendidikan berasrama seperti pesantren.
Namun, skrining tetap perlu dilakukan berdasarkan penilaian risiko, investigasi kontak, dan kebijakan kesehatan di masing-masing wilayah.
Fokus utamanya adalah menemukan orang yang berisiko atau memiliki gejala TB sedini mungkin.
Selanjutnya, mereka dapat menjalani pemeriksaan lanjutan.
Apabila TB terkonfirmasi, pasien bisa segera mendapatkan pengobatan. Langkah tersebut sekaligus membantu memutus rantai penularan.
Kemenkes Perluas Skrining dengan X-Ray
Penggunaan teknologi juga menjadi bagian penting dalam skrining TB di kelompok berisiko.
Kemenkes telah memanfaatkan perangkat X-ray untuk mempercepat penemuan kasus. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.
Pada April 2026, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus meninjau skrining TB di Pati, Jawa Tengah.
Pemeriksaan menyasar keluarga pasien TB dan mencakup skrining hingga foto rontgen. Wamenkes saat itu menegaskan bahwa pemberantasan tuberkulosis menjadi salah satu prioritas kesehatan nasional.
Program Juga Menjangkau Ratusan Ribu Warga Binaan
Perluasan skrining terlihat pula di lingkungan pemasyarakatan.
Pada akhir Juni 2026, pemerintah memulai program nasional skrining TB dan Cek Kesehatan Gratis di 532 Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan.
Program tersebut ditargetkan menjangkau 321.449 peserta. Jumlah itu terdiri dari 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas pemasyarakatan.
Kemenkes menilai kepadatan hunian membuat risiko penularan TB di lingkungan tersebut lebih tinggi.
Bahkan, prevalensi TB di lapas disebut mencapai 0,54 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,3 persen.
Karena itu, skrining menggunakan foto rontgen dada dilakukan secara rutin.
Pasien yang Ditemukan Harus Segera Diobati
Penemuan kasus hanya menjadi tahap awal.
Setelah seseorang terindikasi TB, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan diagnosis. Selanjutnya, pasien yang terkonfirmasi perlu segera menjalani pengobatan sesuai standar.
Langkah ini penting karena TB merupakan penyakit yang dapat diobati.
Selain itu, pengobatan yang tepat dapat mengurangi risiko penularan kepada keluarga dan masyarakat.
Kemenkes sebelumnya menegaskan bahwa semakin banyak kasus ditemukan, semakin besar pula peluang pasien mendapatkan pengobatan dan sembuh.
Indonesia Kejar Target Eliminasi TB 2030
Pemerintah menargetkan eliminasi tuberkulosis pada 2030.
Untuk mengejar target tersebut, strategi tidak cukup hanya menunggu pasien datang berobat. Sebaliknya, tenaga kesehatan perlu aktif menemukan kasus di masyarakat.
Karena itu, skrining TB di kelompok berisiko terus diperkuat melalui pemeriksaan kontak erat, X-ray, pelibatan fasilitas kesehatan, dan pendekatan berbasis komunitas.
Selain pemerintah pusat, pemerintah daerah memiliki peran besar dalam strategi ini.
Puskesmas, kader kesehatan, keluarga, dan masyarakat dapat membantu menemukan warga yang membutuhkan pemeriksaan. Dengan demikian, kasus TB dapat diketahui lebih awal.
Pada akhirnya, semakin cepat kasus ditemukan dan diobati, semakin besar peluang untuk memutus rantai penularan TB di masyarakat.
